Sabtu, 31 Maret 2012
Usut Kematian Bonek, PSSI Bikin TPF TPF berjanji akan menuntaskan investigasi dalam waktu tiga minggu.
PSSI akhirnya turun tangan mengusut kematian lima suporter Persebaya (bonek). Induk sepakbola Indonesia ini membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) guna menginvestigasi tragedi kemanusian tersebut.
Ada tujuh nama yang masuk dalam tim ini, yakni Prof DR Suryanto (ketua/Unair), Eduard Dewaruci, SH. M.Hum (Pengacara profesional), Drs. Achmad Muzaki, MA (Sosiolog IAIN), Drs. Autar Abdillah, M.Si (Budayawan Unesa), M. Soleh, SH (Pengacara profesional), DR Suko Widodo (Pakar komunikasi Unair), dan Drs. Anwar Hudiono (Wartawan Senior Kompas).
Pengangkatan TPF ini dituangkan lewat surat PSSI tertanggal 12 Maret dan ditandatangani sekjen Tri Goestoro.
Ketua TPF Prof. DR. Suryanto, M.Si dalam press conference di kantor PSSI Surabaya, Rabu (14/3), mengatakan, dirinya bersama enam orang anggota baru saja mengadakan rapat pertama. Dalam rapat ini, ketujuh anggota TPF mulai merencanakan dan menetapkan apa yang harus dilakukan.
"Tugas kita adalah mengumpulkan data dan memberikan rekomendasi terkait insiden meninggalnya suporter Persebaya saat akan menonton Persebaya di Bojonegoro," kata Suryanto.
Suryanto berharap, seluruh pihak bersabar dan cooling down. Ia berhadap jangan ada yang memperkeruh suasana. "Mari kita cooling down semuanya. Apapun yang ada di Jawa Timur adalah keluarga. Surabaya, Lamongan, Bojonegoro adalah bagian keluarga besar Jawa Timur," himbaunya.
Berbagai data akan ditindaklanjuti, termasuk hasil penyelidikan Polres Lamongan yang menyebut kematian Bonek adalah murni kecelakaan. "Itu bahan pertimbangan kita untuk tindak lanjut. Itu sumber informasi yang bagus," lanjutnya.
Sementara itu, anggota TPF, Suko Widodo menjelaskan, dalam mengusut kasus ini, pihaknya akan menggunakan beberapa teknik penggalian data, mulai dari teknik wawancara, dokumentasi maupun observasi di lapangan. TPF juga akan memanggil beberapa elemen terkait, seperti suporter, para medis, Panpel, polisi dan sebagainya.
"Mulai hari ini kita bekerja. Berdasarkan hasil rapat tadi, kerja kita maksimal tiga minggu," tutur dosen Universitas Airlangga ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar